Langsung ke isi

Panduan · Rafanto

Cara menghitung untung warung yang sebenarnya

Hampir semua pemilik warung menghitung untung dengan cara ini: jualan hari ini dikurangi belanja hari ini. Sayangnya cara itu keliru. Di hari belanja besar, untungnya kelihatan lebih kecil dari aslinya. Di hari tidak belanja, malah kelihatan lebih besar.

Masalahnya

Kenapa jualan dikurangi belanja belum tentu untung

Belanjaan hari Senin tidak habis dipakai hari Senin saja. Sebagian bahannya masih ada di kulkas pada hari Selasa, dan baru terpakai hari itu. Jadi Senin ikut “membayar” biaya yang sebetulnya milik Selasa. Selasa pun kelihatan untung besar, padahal bahannya sudah dibayar sehari sebelumnya.

Untung ditentukan oleh berapa yang terpakai. Angka ini baru sama dengan berapa yang dibelanjakan kalau seluruh belanjaan habis di hari yang sama, dan itu hampir tidak pernah terjadi.

Rumusnya

Rumusnya cuma tiga baris

  1. Modal terpakai= stok awal hari + belanja hari ini − stok akhir hari.
  2. Untung kotor= jualan − modal terpakai.
  3. Untung bersih= untung kotor − biaya hari itu di luar bahan: gas, listrik, plastik, upah, sewa dibagi hari.

Balik ke contoh Senin tadi. Dari belanja Rp450.000, ternyata Rp180.000 masih tersisa di kulkas waktu tutup toko. Jadi modal yang terpakai hari Senin cuma Rp270.000, dan untung kotornya Rp510.000. Lumayan beda dengan Rp330.000 tadi. Selasa kebalikannya. Hari itu bahan sisa Rp180.000 ikut terpakai, jadi untung Selasa lebih kecil dari yang terlihat.

Yang sering lupa

Biaya yang paling sering lupa dihitung

Gas, listrik, plastik

Per porsi memang kecil, tapi tetap ada. Kalau satu tabung gas 3 kg habis dalam tiga hari, berarti sekitar Rp7.000 per hari yang harus ikut dikurangkan. Jangan dianggap “sudah ada”.

Upah diri sendiri

Kalau Anda tidak menggaji diri sendiri, warung kelihatan untung, padahal sebenarnya Anda sendiri yang menanggungnya. Tentukan upah yang wajar per hari, lalu catat sebagai biaya. Sisanya, itu baru untung warung.

Sewa dan alat, dibagi per hari

Sewa Rp1.500.000 sebulan berarti Rp50.000 sehari. Kompor Rp600.000 yang awet dua tahun berarti sekitar Rp800 sehari. Kecil memang, tapi dua tahun lagi kompornya rusak, dan uang untuk beli yang baru harus sudah ada.

Rumusnya gampang, yang berat itu mengisinya tiap hari

Rumus di atas bisa dihitung di buku tulis. Yang bikin orang menyerah itu menghitung stok akhir tiap malam, lalu mengalikan tiap bahan dengan harganya. Pekerjaannya menyebalkan, dan biasanya baru tiga hari sudah berhenti.

Bagian itu yang dikerjakan Rafanto. Cukup isi resepnya sekali saja, lalu tiap porsi yang terjual otomatis memotong stok bahannya. Stok akhir dan modal terpakai dihitung sendiri, jadi waktu tutup toko Anda langsung lihat untung yang sebenarnya.